:. Bambang Suhartono' Blog .:

Home » Kategori Pilihan » A Cup of Cofee - Berbagi Cerita » Kisah perjalanan Ali bin Abi Thalib

Kisah perjalanan Ali bin Abi Thalib

ali-bin-abi-thalib-bambangsuhartonoAli bin Abi Thalib ialah salah seorang sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk syurga. Salah satu kisah menakjubkan Ali bin Abi Thalib ialah menyambungkan kembali tangan seorang hamba yang terpotong tanpa meninggalkan bekas.

Tangan orang itu dipitong karena kesalahannya telah mencuri. Ketika ia ditanya siapa yang telah memotong tangannya, ia menjawab dengan bangga bahwa Ali lah yang telah menghukumnya dengan memotong tangannya.

Salman al-Farisi yang mendengar kata-kata hamba itu kemudian mengabarkan hali tersebut kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau pun memanggil hamba itu dan meletakkan tangannya ka atas siku hamba tersebut serta menutupnya dengan kain sambil berdoa. Kemudian terdengar suara yang memerintahkan kain itu diangkat. Setelah diangkat, ajaib tangan itu kembali tersambung seperi sedia kala tanpa ada bekas sama sekali.

Dalam menganjurkan jihad, Sayyidina Ali bin Abi Thalib sangat tegas. Seperti yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Zaid bin Wahab, Ali pernah bekhutbah di hadapan kaum muslimin. “Hai kaum muslimin, berpeganglah kalian di jalan Allah demi untuk mencapai keridhaan-Nya melawan kaum yang keluar dari agama dan tenggelam dalam kesesatan. Persiapkan dirimu dengan pasukan kuda dan bertakwalah engkau kepada Allah karena Dia selalu bersama dengan orang-orang yang bertawakkal”

Kemudian dari Ibnu Abdil dari Abdul Wahid Dimsyiqy. Katanya. Pada hari Shiffin, Khusyab al-Himyary berteriak kepada Ali, “Hai ibnu Abu Thalib, tinggalkan negeri kami (Syam) dan kami akan meninggalkan negerimu (Irak) karena kami tidak akan berperang denganmu”

“Demi Allah, hai orang zalim, aku tidak akan meninggalkan peperangan ini. Kalau aku tahu bahwa Allah mengizinkan aku untuk mendiamkan suatu yang mungkar pasti aku akan diamkan. Namun, Allah menyuruh kami melarang kemungkaran selama mereka mampu untuk berjihad fisabilillah sampai Allah memberikan keputusan,” tegas Ali.

Kisah masuknya Ali ke dalam islam juga cukup menarik. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib datang ke rumah Nabi Muhammad saw, pada waktu itu Rasulullah dan istrinya Siti Khadijah sedang shalat. Seusai shalat, Ali bertanya, “Muhammad, apakah yang engkau lakukan itu?”

“Inilah agama Allah dan untuk itu Dia mengutus utusan-Nya. Maka aku ajak engkau untuk masuk ke jalan Allah Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah engkau kafir kepada patung Latta dan Uzza,” terang Nabi

“Sesungguhnya ajakan ini sama sekali belum pernah aku dengar sampai hari ini, tetapi untuk itu aku perlu berunding dengan Ayahku Abu Thalib karena aku tidak dapat memutuskan sesuatu tanpa dia”

Nabi Muhammad saw mencegahnya, sebab khawatir kabar ajarannya akan menyebar sebelum ada perintah Allah untuk menyiarkannya. “Hai Ali, jika engkau belum mau masuk islam, simpanlah dulu kabar ini!”

Kemudian pada suatu malam, Allah swt membukakan pintu hati Ali untuk masuk islam. Ali segera menemui Nabi dan berkata, “Bagaimanakah ajakan yang engkau sucikan itu, ya Muhammad?”

“Hendaklah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan, kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah engkau kafir terhadap patung Latta dan Uzza dan engkau tinggalkan agama berhala”

Ajakan itu diterima oleh Ali dan beliau pun masuk islam, namun, masih dengan ketakutan terhadap ayahnya, Ali tetap merahasiakan keislamannya selama beberapa waktu.

Ali bin Abi Thalib juga diberikan karunia akan kemampuannya kebal terhadap panas dan dingin. Abu Laila bertandang menemui Ali. “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang memerhatikan sesuatu yang aneh pada dirimu”

“Apa itu, wahai Abu Laila?”

“Pada hari yang panas, engkau keluar dengan memakai pakain luar yang tebal. Namun, saat cuaca sedang dingin, engkau malah memakai dua lapis baju tipis tanpa melindungi diri dari rasa dingin”

“Bukankah engkau bersama kami waktu di Khaibar, wahai Abu Laila?” Tanya Ali

“Benar, pada waktu itu aku bersamamu”

“Sesungguhnya Rasul mengutus Abu Bkar ke medan peperangan, namun beliau terkalahkan. Lalu Rasul mengirim Umar, namun beliau pun terkalahkan. Rasulullah bersabda, ‘Aku akan berikan bendera perang ini kepada seorang pria yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ia bukan pengecut dan Allah akan memenangkannya.’ Beliau menyuruh seseorang memanggilku dan segera aku menemui Rasulullah. Ketika itu, mataku sedang sakit dan tidak bisa melihat apa pun. Rasulullah meludahi kedua mataku ini sambil berdoa, ‘Ya Allah, kebalkanlah ia dari panas dan dingin’ sejak saat itu baik panas maupun dingin tidak pernah menggangguku lagi ”


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: