:. Bambang Suhartono' Blog .:

Home » Kategori Pilihan » Information Technology » Kenapa Djarum menyuntik 1 Trilyun ke kaskus..?

Kenapa Djarum menyuntik 1 Trilyun ke kaskus..?

kaskusSebuah fenomenal bernama Kaskus di era dotkom babak ke 2 di Indonesia. Ya, Kaskus diciptakan tanggal 6 November 1999 oleh tiga mahasiswa asal Indonesia yaitu Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan, di Seattle, Amerika Serikat baru-baru ini diberitakan mendapatkan dana segar 1 Trilyun Rupiah dari Group Djarum. Kaskus awalnya bertujuan sebagai forum informal mahasiswa Indonesia di luar negeri. Nama “Kaskus” sendiri merupakan singkatan dari kata “kasak-kusuk”. Pada bulan Agustus 2005, PC Magazine Indonesia memberikan penghargaan kepada situs Kaskus sebagai situs terbaik dan komunitas terbesar, kemudian Kaskus terpilih kembali sebagai website terbaik pilihan pembaca PC Magazine pada 2006.
Awal tahun 2011, Kaskus mengumumkan ekspansi bisnisnya dengan menjalin hubungan kerjasama bersama Global Digital Prima yang merupakan anak perusahaan dari PT Djarum. Selain itu, Kaskus juga akan menambah jumlah servernya hingga 250 buah serta melakukan rekrutmen pegawai baru hingga 80 orang.
Meskipun terdengar asing, nama GDP bukanlah perusahaan ecek-ecek. Ia tak lain anak usaha Grup Djarum yang dipegang Martin Basuki Hartono, generasi ketiga keluarga pemilik Djarum. Martin adalah putra Robert Budi Hartono, pemilik Djarum yang menjadi orang terkaya di Indonesia versi teranyar Forbes.
Proses masuknya anak usaha Grup Djarum ke Kaskus itu sebenarnya tidak terlampau mulus. Menurut Ken Dean Lawadinata, CEO DMI (pemilik Kaskus), awal tahun lalu, Martin sudah mengutarakan minat. “Tapi pada waktu itu mentah,” tuturnya. Pada medio Desember lalu, Martin balik dengan bendera Global Digital Prima. “Pada waktu dia masuk, kami sedang dalam proses dengan satu investor dari Cina,” ujar Ken.
Kedatangan Martin kali ini disambut dengan karpet merah. Dalam waktu dua minggu, kata sepakat sudah didapat. “Awal tahun sudah teken persetujuan,” tutur Ken.
Dari latar belakangnya, kelompok usaha Djarum sebenarnya tergolong baru di ranah bisnis online. Masuknya Djarum ke bisnis online dimulai pada tahun lalu, dengan mendirikan Global Digital Prima dan mengakuisisi sejumlah situs internet baru. Antara lain Krazymarket.com, Infokost.net, Dailysocial.net, Bolalob.com, dan Lintasberita.com. Kelimanya lalu dikelola dalam satu unit bisnis berlabel Merah Putih Incubator.
Melalui Kaskus, GDP dinilai ingin diakui sebagai pemain bisnis online. Kredibilitas di mata pemain bisnis online akan terdongkrak. Lalu, berapa besar investasi yang harus dikucurkan GDP? Ken menolak menjawab. Juga soal persentase saham Kaskus yang menjadi milik Grup Djarum. “Kami terikat perjanjian untuk tidak mengumumkan hal itu,” katanya.
Namun, Ken menyatakan, munculnya beragam tafsiran nilai duit yang mengucur itu adalah hal yang lumrah. “Cuma, saya bisa kasih ancarannya. Kan, ada yang bilang Rp 1 trilyun atau Rp 1,5 trilyun. Terserah sih mau dianggapnya berapa,” tuturnya. “Banyak memang yang menebak. Dan kami melihat, sudah ada beberapa yang tepat, meski saya tidak bisa menyebutkan,” Ken menambahkan.
Berapa persisnya komitmen fulus dari DGP, tampaknya lumayan besar. Yang jelas, menurut Ken, dana yang cair sejak awal Januari lalu itu dapat dipakai untuk ekspansi selama tiga tahun ke depan. Kaskus berencana memakai dana segar GDP itu untuk pengembangan forum jual-beli (FJB) dan sistem pembayaran (payment system). Ken menilai, masa depan Kaskus terletak pada FJB dan payment system. “Rencananya kelar pertengahan tahun ini juga,” katanya. Hingga kini, iklan masih menjadi andalan. Total, lebih dari US$ 1 juta per tahun.
Analisa Djarum menggandeng Kaskus
Satu pertanyaan menarik buat kita saat ini adalah sebegitu beranikah Djarum menanam investasi dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung? Apakah tidak mengalami trauma dengan kasus Astaga dotkom yang sudah investasi berjuta-juta dollar akhirnya mati suri dan lenyap? Konon, tawaran dari Djarum ini bukanlah hal yang gampang-gampang susah. Syarat yang harus dipenuhi adalah semua strategi core bisnisnya harus di tangan Kaskus yang lama inilah yang sempat menjadi proses masuknya Djarum tidak mudah.
Dari kacamata strategi bisnis Djarum, sepertinya sudah menjadi pola di perusahaan rokok dunia yakni kekhawatiran bisnis rokok yang sudah mulai di persempit ladang kemudahan maupun regulasi yang semakin ketat di dunia global. So, langkah Djarum yang sudah mulai ekspansi ke properti, bank, dan saat ini menjadi pemain dotkom tentulah sudah mempunyai pemikiran yang masak di 10 tahun ke depan. Djarum nampaknya sadar bahwa trend bisnis internet di masa depan akan memegang peran sentral bahwa dengan menguasai media ini akan menjadi “mindset” bagi industri dan retail [red: baca konsumen]. Tidak mengherankan, Djarum dengan cash flow yang boleh dikatakan sangat besar sangat berambisi menggaet pemain dotkom yang sudah established dan mempunyai jaringan yang sangat kuat. Terlalu beresiko bila Djarum harus membuat dotkom baru karena tidak efektif dan sangat lama.
Banyak keuntungan yang bisa di raih oleh Djarum, selain dari sisi revenue, dia akan mendapatkan posisi “branding” yang lebih leluasa di era regulasi iklan yang sangat ketat saat ini. Potensi pemakai internet Indonesia yang semakin tidak terbendung membuat Djarum sudah ancang-ancang memainkan peranan yang strategis di Indonesia. Tentu, tantangan Djarum saat ini adalah bagaimana Kaskus bisa mengglobal dan sangat-sangat terkenal seperti Baidu.com walaupun usernya 90 % adalah lokal. Wajar saja, Google pun dulu konon sempat tertarik mengakuisi Kaskus.
So, mudah-mudahan analisa ini menjadi harapan besar bagi para calon teknopreneur yang memang butuh dorongan moral bahwa dengan ide-ide besar apapun bisa terealisasi. Hal yang tidak mungkin masih ada dotkom “dahsyat” seperti kaskus yang bakal melesat di beberapa tahun ke depan. Dengan pasar Indonesia yang besar di Asia Pasifik, siapapun mungkin walaupun bermodal puluhan dollar di tahap awal seperti halnya Kaskus. Kaskus menurut Andrew Darwis memang sangat tumbuh secara organik dan tanpa budget iklan sedikitpun. Dan saat ini ditopang Djarum yang sangat terkenal dalam strategi dan marketing komunikasinya yang boleh dikatakan “unlimitted”, akankah mampu membawa Kaskus sejajar dengan Google, Facebook, Yahoo, Youtube..? Waktulah yang akan membuktikan.

1 Comment

  1. […] berani membeli  sebuah website yang dengan nama Kaskus ? untuk pembahasannya bisa dilihat lihat di link berikut ini , Djarum Group membeli kaskus tidak hanya kira-kira, tetapi juga menggunakan beberapa tools yang […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: