:. Bambang Suhartono' Blog .:

Home » Kategori Pilihan » Manajemen » Antara tujuan dan cara

Antara tujuan dan cara

Berikut saya sharing artikel yang saya lihat cukup bagus untuk kita baca, kebetulan dari salah satu blog tetangga :

Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku tentang tujuan dan cara, pada awalnya saya susah sekali untuk membedakan antara tujuan dan cara. Sering sekali saya merasa bahwa saya mempunyai tujuan yang jelas, dan ternyata tujuan yang saya maksudkan adalah merupakan cara. Kesulitan untuk membedakan ini memang benar karena sifat dari tujuan dan cara itu, kadang tercampur. Cara dapat menjadi tujuan kecil, pada saat saya mau masuk ke universitas, saya merasa bahwa menjadi sarjana adalah tujuan saya, tetapi sebenarnya saya masuk ke universitas, agar saya mendapatkan ilmu dan ilmu tersebut dapat saya gunakan untuk membangun usaha, dan membangun usaha menjadi tujuan saya kedua, padahal membangun usaha adalah suatu cara untuk saya mendapatkan uang, dan ternyata mendapatkan uang juga merupakan tujuan perantara, karena saya berpikir kalau saya sudah dapat uang saya dapat membangun keluarga bahagia. Jadi sebenarnya tujuan akhir saya adalah membangun keluarga bahagia.
Sangatlah penting kita dapat membedakan antara tujuan dan cara, karena biasanya cara hanya satu, seperti misalkan tujuan saya adalah lulus universitas dan mendapatkan gelar, saya akan melakukan apa saja agar saya lulus dan mendapatkan gelar, saya bisa nyontek, saya bisa membayar agar saya lulus, atau saya bisa bekerja keras untuk belajar dan mendapatkan nilai yang bagus. Kalau saya punya tujuan yang jelas mengapa saya sekolah seperti pada cerita diatas, tentunya saya tidak akan nyontek, saya tidak akan membayar agar saya lulus, karena dengan cara tersebut saya tidak akan mendapatkan pelajaran yang berguna untuk membangun usaha saya. Karena saya akan tahu bahwa tujuan saya masuk ke universitas bukan gelar yang akan saya cari, melainkan saya akan mencari ilmu agar dapat digunakan dalam membangun usaha.
Sangatlah jelas bahwa tujuan akan membedakan cara kita melakukan sesuatu, sehingga tujuan sangatlah penting didalam kehidupan. Kalau kita tidak mempunyai tujuan yang jelas kehidupan kita juga akan menjadi tidak jelas karena kita tidak mempunyai arah, tetapi mempunyai tujuan juga tidak berarti kita akan selalu sukses, dan kalau tidak mempunyai tujuan sudah dipastikan tidak akan sukses. Berikut ini adalah hasil survey dari Harvard University, hanya ada 3% orang yang kehidupannya sangat makmur, mereka adalah yang dapat menuliskan tujuannya dengan jelas dan ditulis, 10 % orang kehidupannya diatas rata rata, mereka yang mempunyai tujuan yang jelas dan tidak di tulis, 27 % mereka yang kehidupannya rata rata, adalah orang yang mempunyai tujuan yang samar samar, dan 60% orang kehidupannya dibawah rata rata, mereka tidak mempunyai tujuan yang jelas.
Mimpi menjadi kenyataan
Pada suatu pagi Monty Robert mengundang temanya untuk datang ke rumahnya yang cukup luas sekitar 10 hektar, di rumah tersebut ada ranch kuda, beserta kuda kuda yang bagus. Dan disitu ada banyak anak anak sekolah sedang bermain dan ada John guru mereka yang sudah tua.
Kemudian Monty Robert bercerita kepada temannya tersebut bahwa, ia adalah seorang anak tukang kuda di Amerika, pekerjaan ayahnya adalah memelihara kuda dari ranch satu ke ranch lainnya, serta kuda balap. Kehidupannya sangat sederhana bahkan tergolong miskin. Monty Robert bersekolah di sekolah dasar kelas terakhir, dan gurunya memberi tugas pada anak anak dikelasnya untuk menuliskan apa yang dicita citakan dalam hidupnya.
Monty Robert menuliskan apa yang dia cita citakan didalam 7 halaman, dia menginginkan punya ranch diatas tanah seluas 10 acre, dan digambarkan secara detail bentuk rumah dan juga ranchnya, serta jalan yang dibuat di dalam tanah seluar 10 acre tersebut. Setelah tugas tersebut diserahkan kepada John, besoknya semua tugas dikembalikan pada para murid, dan Monty Robert mendapatkan nilai C, terus dikasih keterangan untuk bertemu dengan John gurunya setelah kelas berakhir. John mengatakan pada Monty Robert, bahwa apa yang dituliskan itu adalah hal yang tidak mungkin dapat kesampaian mengingat Monty Robert adalah anak seorang pengurus kuda yang kehidupannya cukup miskin. Dan John mengatakan seandainya Monty Robert mau menggantikan ceritanya yang lebih nyata, maka John akan mengganti nilai Monty Robert. Sepulang ke rumah Monty Robert konsultasi pada ayahnya, dan ayahnya menyerahkannya pada Monty untuk mengambil keputusan. Keesokan harinya Monty menemui gurunya dan dia bersikeras untuk tidak mengubah tulisannya dan berkata kepada gurunya, “Pak John dapat menyimpan nilai C nya untuk saya, tetapi saya akan meyimpan impian saya”
Tugas tersebut masih tergantung diatas perapian rumah Monty Robert yang sesuai dengan apa yang di cita citakan, dan John gurunya memanggil murid muridnya yang dibawah ke rumah Monty dan mengatakan “Anak anak dulu saya sudah banyak mencuri impian murid murid saya, sekarang kamu dapat menyimpan impian mu erat erat, seperti Monty Robert ini”. Sebuah kisah nyata yang terjadi di Amerika, dan sangat menginspirasi.
Saya juga baru selesai membaca buku The Compass of Fulfillment yang ditulis oleh Kazuo Inamuri, mengatakan bahwa “what you can see in your mind, you can do; what you can’t see, you can’t do. If you desire a specific outcome, you must concentrate on its realization with a fierce tenacity until it becomes a passionate desire, at which point you will be able to see what success looks like in minute detail.” Monty Robert dapat menggambarkan dengan jelas ranch yang dia ingin miliki, dan sekarang telah menjadi kenyataan, dia menjadi Horse trainer yang terkenal, serta penulis buku dan juga motivational speaker. Untuk informasi lebih lanjut tentang Monty Roberts Klik disini
Tidak ada jalan pintas
Pada saat kita bekerja untuk mencapai tujuan kita, karakter kita akan terbentuk dengan bekerja keras. Karena pada saat kita kerja keras akan membentuk karakter kita, kita dipersiapkan untuk dapat menikmati kesuksesan dengan benar.
Ada suatu cerita, seorang anak sedang melihat kepompong yang akan menjadi kupu-kupu, kepompong tersebut dengan susah payah keluar dari kepompongnya, karena lubang kepompong sangat kecil dibandingkan dengan kepompongnya sendiri. Karena si anak kecil tersebut merasa kasihan kepada si kepompong, maka anak kecil tersbut ingin membantu si kepompong, dengan mengambil gunting, bungkus kepompong di gunting sehingga si kepompong dengan mudah keluar. Setelah keluar ternyata bentuk badannya besar, sehingga si kepompong tidak dapat terbang menjadi kupu-kupu, dan akhirnya mati.
Ternyata pada saat kepompong itu berusaha untuk keluar dengan lubang yang sempit, akan memeras isi perutnya, dan cairan tersebut akan menyebar keseluruh tubuhnya untuk memberikan kekuatan.
Dalam kehidupan ini tidak ada jalan pintas, Kazuo Inamori juga mengatakan didalam bukunya  “There is no shortcut to the destination we have painted in our minds. A great distance can be traveled only one step at a time, and a great dream is reached little by little, day by day.” Tulisan buku Kazuo ini sangat menginspirasi saya, tidak heran kalau Kazuo mempunyai perusahaan yang cukup besar di Jepang bernama Kyocera dan perusahaan telekomunikasi KDDI. Dia banyak mendapatkan penghargaan dan juga dia mempunyai dana abadi yang digunakan untuk memberikan hadiah pada orang orang yang berinvosi.
Dengan bekerja keras akan membangun karakter
Di Jepang pada tahun 1787 – 1856 hiduplah seorang petani yang tidak berpendidikan yang bernama Ninomiya Sontoku, dia dibesarkan dari keluarga miskin; setiap hari ia bekerja keras dari pagi hingga petang,  menggarap ladang dengan hanya menggunakan pacul dan sekop. Dari hasil kerja kerasnya dia banyak mengubah pedesaan yang miskin menjadi pedesaan yang makmur. Atas hasil jerih payahnya dalam membangun desa, ia diundang oleh pemerintahan Tokugawa ke kerajaan, dimana dia bercampur dengan orang orang kalangan atas di dalam kerajaan. Walaupun dia tidak didik di kalangan atas dia dapat bergaul dengan orang kalangan atas, di buku tersebut Kazuo mengatakan “Those long days toiling in the fields, covered in dirt and sweat, had nurtured his inner being, cultivated his character, purified his heart, and honed his soul, raising him to a higher plane of existance.”. Pada saat kita kerja keras, kita juga harus mencintai pekerjaan kita dan berikan upaya yang maksimal. Dan dikatakan juga didalam bukunya “it is through hard work that a person can perfect her character.”.

Referensi :


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: